8 Peristiwa Penting tentang Hijrah Nabi Muhammad Saw ke Madinah (Yatsrib)

8 Peristiwa Penting Hijrah Nabi Muhammad ke Madinah - Ketika tekanan dan siksaan orang Quraisy semakin bertambah, Rasulullah Saw memerintahkan kaum Muslimin berhijrah ke Madinah. Hijrah tersebut dilakukan secara sembunyi, sedangkan beliau berangkat bersama Abu Bakar setelah kaum Muslimin tiba di Madinah. Berita akan datangnya Nabi Muhammad Saw. tersebar di Madinah, semua penduduk Madinah bersiap-siap menanti kedatangannya. Tatkala beliau sampai di Madinah, beliau disambut dengan syair-syair dan penuh kegembiraan oleh penduduk Madinah.

Hijrah dari Makkah ke Madinah bukan hanya sekedar berpindah dan menghindarkan diri dari ancaman dan tekanan orang kair Quraisy dan penduduk Makkah yang tidak menghendaki pembaharuan terhadap ajaran nenek moyang mereka, tetapi juga mengandung maksud untuk mengatur potensi dan menyusun strategi dalam menghadapi tantangan lebih lanjut, sehingga nanti terbentuk masyarakat baru yang di dalamnya bersinar kembali mutiara tauhid warisan Nabi Ibrahim As yang akan disempurnakan Nabi Muhammad Saw melalui wahyu Allah Swt.

Beberapa peristiwa penting tentang Hijrah Nabi Muhammad Saw ke Madinah :

1. Tersebarnya berita tentang masuk Islamnya sekelompok penduduk Yatsrib (Madinah), membuat orang-orang kair Quraisy semakin meningkatkan tekanan terhadap orang-orang beriman di Makkah. Lalu Nabi Muhammad Saw memerintahkan kaum Mukminin agar hijrah ke kota Madinah. Para sahabat segera berangkat menuju Madinah secara diam-diam, agar tidak dihadang musuh. Namun Umar bin Khattab justru mengumumkan terlebih dahulu rencananya untuk berangkat ke pengungsian kepada orang-orang kair Makkah. Ia berseru, “Siapa di antara kalian yang bersedia berpisah dengan ibunya, silahkan hadang aku besok di lembah, besok pagi saya akan hijrah.” Tidak seorang pun berani menghadang Umar.

2. Setelah mengetahui kaum Muslimin yang hijrah ke Madinah itu disambut baik dan mendapat penghormatan yang baik dari penduduk Yastrib, bermusyawarahlah kaum kair Quraisy di Darun Nadwah. Mereka merumuskan cara yang diambil untuk membunuh Rasululah Saw yang diketahui belum berangkat bersama rombongan para sahabat. Rapat memutuskan untuk mengumpulkan para algojo dari setiap kabilah guna membunuh Nabi Saw bersama-sama. Pertimbangannya ialah, keluarga besar Nabi (Bani Manaf) tidak akan berani berperang melawan semua suku yang telah mengutus algojonya masing-masing. Kelak satu-satunya pilihan yang mungkin diambil oleh Bani Manaf ialah rela menerima diyat (denda pembunuhan) atas terbunuhnya Nabi. Keputusan bersama ini segera dilaksanakan dan para algojo telah berkumpul di sekeliling rumah Nabi Saw. Mereka mendapat instruksi: “Keluarkan Muhammad dari rumahnya dan langsung penggal tengkuknya dengan pedangmu!”

3. Pada malam pengepungan itu Nabi Saw tidak tidur. Kepada keponakannya, Ali r.a., beliau memerintahkan dua hal: pertama, agar tidur (berbaring) di tempat tidur Nabi dan, kedua, menyerahkan kembali semua harta titipan penduduk Makkah yang ada di tangan Rasulullah Saw kepada para pemiliknya.
Nabi keluar dari rumahnya tanpa diketahui oleh satu orang pun dari para algojo yang mengepung rumahnya sejak senja hari. Nabi Saw pergi menuju rumah Abu Bakar yang sudah menyiapkan dua tunggangan (kendaraan) lalu segera berangkat. Abu Bakar menyewa Abdullah bin Uraiqith Ad-Daily untuk menunjukkan jalan yang tidak biasa menuju Madinah.

4. Rasulullah dan Abu Bakar berangkat pada hari Kamis tanggal 1 Rabi’ul Awwal tahun kelima puluh tiga dari kelahiran Nabi Saw. Hanya Ali dan keluarga Abu Bakar saja yang tahu keberangkatan Nabi Saw dan Abu Bakar malam itu menuju Yatsrib. Sebelumnya dua anak Abu Bakar, Aisyah dan Asma, telah menyiapkan bekal secukupnya untuk perjalanan itu. Kemudian Nabi Saw. ditemani Abu Bakar berangkat bersama penunjuk jalan menelusuri jalan Madinah-Yaman hingga sampai di goa Tsur. Nabi dan Abu Bakar berhenti di situ dan penunjuk jalan disuruh kembali secepatnya guna menyampaikan pesan rahasia Abu Bakar kepada putranya, Abdullah. Tiga malam lamanya Nabi Saw dan Abu Bakar bersembunyi di goa itu. Setiap malam mereka ditemani oleh Abdullah bin Abu Bakar yang bertindak sebagai pengamat situasi dan pemberi informasi.

5. Lolosnya Nabi Saw dari kepungan yang ketat itu membuat kalangan Quraisy hiruk pikuk mencari. Jalan Makkah-Madinah dilacak. Tetapi mereka gagal menemukan Nabi Saw. Kemudian mereka menelusuri jalan Yaman-Madinah. Mereka menduga Nabi pasti bersembunyi di Gua Tsur. Setibanya tim pelacak di sana, alangkah bingungnya mereka ketika melihat mulut gua itu tertutup jaring laba-laba dan sarang burung. Itu pertanda tidak ada orang yang masuk ke dalam goa itu. Mereka tidak dapat melihat apa yang ada dalam goa, tetapi orang yang di dalamnya dapat melihat jelas rombongan yang berada di luar. Waktu itulah Abu Bakar merasa sangat khawatir akan keselamatan Nabi. Nabi berkata kepadanya, “Jangan takut dan jangan khawatir, Allah bersama kita”.

6. Kalangan kair Quraisy mengumumkan kepada seluruh kabilah, “Siapa saja yang dapat menyerahkan Muhammad dan kawannya (Abu Bakar) kepada kami hidup atau mati, maka kepadanya akan diberikan hadiah yang bernilai besar.” Bangkitlah Suraqah bin Ja’syam mencari dan mengejar Nabi dengan harapan akan menjadi hartawan dalam waktu singkat.

Sungguhpun jarak antara goa Tsur dengan rombongan Nabi sudah begitu jauh, namun Suraqah ternyata dapat menyusulnya. Tatkala sudah begitu dekat, tiba-tiba tersungkurlah kuda yang ditunggangi Suraqah, sementara pedang yang telah diayunkan ke arah Nabi tetap terhunus di tangannya. Tiga kali ia mengibaskan pedangnya ke arah tubuh Nabi, tetapi pada detik-detik itu pula kudanya tiga kali tersungkur sehingga tidak berhasil.

Kemudian ia menyarungkan pedangnya dalam keadaan diliputi perasaan kagum dan
yakin, dia benar-benar berhadapan dengan seorang Nabi yang menjadi Rasul Allah.
Ia mohon kepada Nabi agar berkenan menolong mengangkat kudanya yang tak dapat
bangun karena kakinya terperosok ke dalam pasir. Setelah ditolong oleh Nabi, ia meminta
agar Nabi berjanji akan memberinya hadiah berupa gelang kebesaran raja-raja. Nabi
menjawab, “Baiklah.” Kemudian kembalilah Suraqah ke Makkah dengan berpura-pura
tak menemukan seseorang dan tak pernah mengalami kejadian apa pun.


7. Rasulullah dan Abu Bakar tiba di Madinah pada tanggal 12 Rabi’ul Awal. Kedatangan beliau telah dinanti-nantikan masyarakat Madinah. Pagi hari mereka berkerumun di jalanan, setelah tengah hari barulah mereka bubar. Begitulah penantian mereka beberapa hari sebelum kedatangan Nabi Saw. Pada hari kedatangan Nabi dan Abu Bakar, masyarakat Madinah sudah menunggu berjubel di jalan yang akan dilalui Nabi lengkap dengan regu genderang. Mereka mengelu-elukan Nabi dan genderang pun gemuruh diselingi nyanyian yang sengaja digubah untuk keperluan penyambutan itu:
“Bulan purnama telah muncul di tengah-tengah kita, dari celah-celah bebukitan. Wajiblah kita bersyukur, atas ajakannya kepada Allah. Wahai orang yang dibangkitkan untuk kami, kau datang membawa sesuatu yang ditaati.”

8. Dalam perjalanan ke Madinah, Nabi Muhammad Saw. dan rombongan singgah di Qubah. Disini beliau mendirikan masjid dan melaksanakan shalat Jum’at untuk yang pertama kalinya. Kemudian Nabi berangkat meninggalkan Bani Salim. Program pertama beliau sesampainya di Madinah ialah menentukan tempat di mana akan dibangun Masjid.

Tempat itu ialah tempat di mana untanya berhenti setibanya di Madinah. Ternyata tanah
yang dimaksud milik dua orang anak yatim. Untuk itu Nabi minta supaya keduanya sudi
menjual tanah miliknya, namun mereka lebih suka menghadiahkannya. Tetapi beliau
tetap ingin membayar harga tanah itu sebesar sepuluh dinar. Dengan senang hati Abu Bakar menyerahkan uang kepada mereka berdua.

Baca juga: Isi perjanjian Aqabah 1 dan 2👈

Islam mendapat lingkungan baru di kota Madinah. Lingkungan yang memungkinkan bagi Nabi Muhammad Saw untuk meneruskan dakwahnya, menyampaikan ajaran Islam dan menjabarkan dalam kehidupan sehari-hari. Setelah tiba dan diterima penduduk Yastrib, Nabi diangkat menjadi pemimpin penduduk Madinah. Sehingga disamping sebagai pemimpin agama, Nabi Muhammad Saw juga didaulat menjadi pemimpin negara kota yang bernama negara Madinah.

Kemudian, tidak beberapa lama orang-orang Madinah non Muslim berbondong-bondong masuk agama Islam. Untuk memperkokoh masyarakat baru tersebut mulailah Nabi meletakkan dasar-dasar untuk suatu masyarakat yang besar, mengingat penduduk yang tinggal di Madinah bukan hanya kaum Muslimin, tapi juga golongan masyarakat Yahudi dan orang Arab yang masih menganut agama nenek moyang, maka agar stabilitas masyarakat dapat terwujudkan Nabi mengadakan perjanjian dengan mereka, yaitu suatu piagam yang menjamin kebebasan beragama bagi kaum Yahudi. Setiap golongan masyarakat memiliki hak tertentu dalam bidang politik dan keagamaan. Di samping itu setiap masyarakat berkewajiban mempertahankan keamanan negeri dari serangan musuh.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "8 Peristiwa Penting tentang Hijrah Nabi Muhammad Saw ke Madinah (Yatsrib)"

Posting Komentar